Uncategorized

Mari Budayakan Membuang Sampah Sembarangan!!

Buanglah sampah-sampah kalian di manapun kalian suka selagi otak dan pikiran kalian tiada.

Seperti judulnya, mari sama-sama kita budayakan membuang sampah sembarangan. Tak usah repot-repot memikirkan nasib bumi kita, tak usah khawatirkan nasib anak-anak kita nanti, tak usah membuang waktu memusingkan semua itu! Buanglah sampah di manapun kita ingin membuangnya, mudah dan praktis. Benar bukan? Pasti sangat setuju dengan judul di atas bukan?

Entah apa yang ada di benak segelintir orang itu, mereka yang bahagia dengan budaya di atas. Mungkin saraf di salah satu otaknya sudah ikut terbuang sewaktu mereka membuang sampah mereka, atau memang sudah kewajiban mereka untuk mencemari lingkungan dengan sampahnya. Coba tanyakan saja kepada mereka… saya tak memiliki kesempatan kepada mereka yang demikian. Tapi, dalam ulasan ini saya akan memaparkan beberapa poin yang saya dapatkan dari korban mereka.

Di sinilah sekarang saya menulis ulasan ini, di rimbun pepohonan bambu. Siapa yang tak mengenal ranah ini? Iya di sinilah biasanya kita di sambut sejuk dengan tipuan angin yang dikipaskan langsung oleh pepohonan bambu. Di sinilah, di ujung depan jalan lele 5, perannya serupa gapura besar yang selalu menyejukan… tapi itu cerita masa lalu. Ketika belum ada cerita baru yang ditulis oleh mereka penganut budaya baru. Saya duduk di salah satu sisi jembatan memandang gundukan sampah di ranah pepohonan bambu yang malang. Saya tanyakan kepada si pohon bambu, “Kenapa kalian tidak protes? Bukankah sampah-sampah itu sangat mengganggu kalian, hey pepohonan bambu?” kepada saya pohon bambu tampak malu-malu untuk menjawab, raut wajahnya seolah menerima saja dengan lapang dada, katanya menjawab demikian: “Tugas kami hanya untuk membantu penyerapan air ketika hujan, menyejukan siang ketika teramat panas. Kalau urusan memprotes apalagi marah-marah, itu bukan kuasa kami”. Mendengar jawabannya, saya berkerut kening seraya berkata, lantas bagaimana dengan resapan air yang tadi kau katakan? Bukankah sampah-sampah plastik ini sangat menghambat penyerapan? Dan bukankah butuh waktu panjang untuk menguraikan plastik untuk membaur bersama tanah? Belum lagi polusi udara yang kian menyatu dalam budaya baru, tidakkah kalian terganggu dengan aroma sampah ini?. Mendengar kalimat saya yang barusan itu si pohon bambu tersenyum seraya berkata, “kalianlah yang menentukan akan menjadi serupa apa kami”. Dalam pada itu, saya seolah kembali mengenang banyak hal perihal mereka si pohon bambu. Dari tatapan matanya saya menangkap satu hal yang sebenarnya ingin mereka sampaikan. Tatapan layaknya seorang yang tersiksa dan tak tahu ingin meminta tolong kepada siapa. Sungguh malang nasib mereka, tabahkan diri kalian wahai pohon bambu, masih ada kami yang peduli pada masa-masa kejayaan kalian dulu. Kepada kalian, yang masih bertekad melanjutkan budaya baru kalian, saya tidak akan berkomentar banyak hal. lanjutkanlah budaya baru kalian, lanjutkan apa yang seharusnya kalian lakukan. Buanglah sampah-sampah kalian di manapun kalian suka selagi otak dan pikiran kalian tiada.

 

—Juni, 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s